followers

Tampilkan postingan dengan label sindikasi Tobucil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sindikasi Tobucil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

Sindikasi Tobucil : “Klik”, dan Handmade pun Dinyalakan

Halo-halo Bandung!

kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
 
 
 
Siang masih bergairah, membakar. Saya yang kecil ini pun sedikit terhuyung-huyung mencari segelas minuman dingin di sisi jalan Bandung yang agak berdebu. Tangan pun kemudian dengan sigap memainkan urutan-urutan huruf pada keyboard laptop. Meng-googling ke sana kemari sembari menunggu terik menjadi sedikit lebih bersahabat. Entah mengapa, hal-hal yang berhubungan dengan matahari dengan isengnya saya jadikan keyword. Sampai kemudian kata “Nyala” menghubungkan saya dengan crafter yang satu ini. Penasaran membuncah demi membaca nama “Nyala” dan deretan kancing yang terpampang pada karya-karyanya. Yihaa… Korespondensi (bahasa jaman SD bener, ya, ahahaha) dimulai. Percakapan pun terjalin…
 
Aku penasaran, nih… kenapa brand-nya dinamain Nyala?
Aku suka mengartikan ‘Nyala’ itu sesuatu yang positif, passion, sisi paling terang,  semacam tombol “turn-on”. Semua orang kan pasti punya spirit ini, cuman kadang-kadang lupa dinyalakan, harapannya sih mudah-mudahan Nyala bisa membantu mengingatkan orang-orang bahwa semua orang itu diciptakan untuk menjadi spesial, untuk bersinar :)


Oh, ya. Nyala sendiri memulai pergerakannya semenjak kapankah?
Sejak tahun 2008. Waktu itu ol shop belum seheboh sekarang dan dulu masih jualan barang-barang  yang “apa-lo-mau-gua-ada” :P . Singkat cerita, akhirnya tahun 2009 pindah ke facebook dengan konsep baru, disini mulailah jual aksesoris handmade buatan sendiri. Awalnya dulu mengeksporasi benang wol di mix kancing, kabel dengan printilan listrik, kawat, ring-ring besi, recycle kantung plastik, dan lain lain. Ternyata Alhamdulillah ada juga yang suka aksesoris aneh-aneh begitu.
 
 
Produk-produknya Nyala apa sajakah?
Sekarang lebih fokus ke aksesoris, kalung, gelang, langlung (bisa gelang, bisa kalung), bros, dan cincin. Bahan yang paling sering dipakai yaitu dari seleting dan kancing. Bahan lainnya pita, wol, batok, manik-manik, mute, dll. Sebetulnya pengen banget bikin dari limbah apa gitu, tapi belum nemu bahan yang pas (yang mudah dibuat dengan skill pas-pas-an :P). Untuk saat ini, produk Nyala masih dikerjakan oleh 3 orang kakak-beradik dan masing-masing punya bahan favorit beda-beda dalam berkarya.

Aku liat produk-produknya Nyala banyak banget yang menggunakan kancing. Kenapa, sih, yang dipilihnya kancing? Apa yang unik dari si kancing itu sendiri?
Sebetulnya aku suka banget sama bahan-bahan yang banyak pilihan warnanya, makanya pilihannya jatuh pada kancing dan juga seleting. Alasan lain kancing itu awet, tahan lama, tidak luntur, mudah didapat, simple, murah dan bisa jadi teman minum teh *loh. 
(Selanjutnya baca di sini)

Kamis, 18 Agustus 2011

Sindikasi Tobucil : Ketika Foto Menggenggam Harapan

Halo-halo Bandung!

kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Prabowo Setyadi alias Bowo adalah fotografer lawas yang terlalu sering saya jumpai dengan tentengan kamera di tangannya. Penjelajah yang kerap petangkringan di keramaian dan kepungan manusia. Sampai kemudian, di suatu sore, puluhan buku hadir bersama Bowo. “200 Portraits+Hopes of Bandung People” adalah buku yang berisikan kumpulan foto karyanya yang berisi 200 foto warga bandung dengan harapan-harapan yang dimilikinya.


Beberapa waktu yang lalu, sengaja saya mengumpulkan niat untuk menyempatkan diri menyambangilaunching buku tersebut, namun sial beribu sial, hujan yang mendera ditambah kemacetan Bandung yang kian menyebalkan di akhir minggu membuat saya bersahabat dengan kata terlambat. Meski demikian, foto-foto Bowo terus bergumam di kepala, bahkan berhari-hari setelah kegagalan atas nama keterlambatan tersebut terjadi. Mengamati karya Bowo membuat saya agak terusik dengan maksud dan tujuan lelaki tinggi langsing ini. Nah, daripada saya terusik sendiri, jadilah saya pun mengusik-ngusik Bowo. Janji pertemuan pun dibuat, menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai karyanya, mengenai harapannya, mengenai fotografi di dalam hidupnya. Percakapan kami pun kemudian terjalin di sejuknya udara Bandung dan secangkir kopi hitam pahit dengan gula yang begitu minimalis…


Apa yang melatarbelakangi kamu membuat buku ini?
Pertamanya, sih untuk hadiah ulang tahun Bandung yang ke-200. Bulan September tahun lalu, kan, ulang tahun yang ke 200-nya. Tapi tujuan utamanya adalah bahwa 200 orang ini adalah warga kota Bandung yang memiliki daya tahan lebih di bandingkan kita yang mungkin kerja di kantoran. Mungkin karena latar belakang mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah yang kesulitan mencari ruang untuk mengapresiasikan dirinya. Ya, ini semacam dokumentasi.


Kalau ide awalnya sendiri gimana, tuh, sampai jadi 200 foto dengan pose orang-orang memegang karton bertuliskan harapan-harapan mereka?
Jadi tahun 2009 pernah membuat yang seperti itu juga, tapi waktu itu pas ulang tahun Indonesia. Waktu itu dicetak postcard untuk ikutan pameran yang diadain oleh Beritaseni.com. Ternyata pas dilihat-lihat oke juga, nih, memasukkan foto digabungkan dengan teks secara langsung. Kan, biasanya kalau di media massa, foto pakai caption berupa teks di bawah fotonya sebagai keterangan. Nah, kalau ini dibalik, ini bukan foto untuk di media. Jadi di foto saya penggabungan teks dan foto secara langsung. (selanjutnya baca di sini)


Sabtu, 16 Juli 2011

Sindikasi Tobucil : Paperpleased Sang Penyulap Kertas

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
 
 
Perempuan bernama Angelia Florensia adalah manusia dibalik brand Paperpleased. Sebenarnya sudah sedari lama saya sangat berminat mewawancara Paperpleased. Namun, bagaikan perlombaan halang rintang Pramuka jaman SMP, jarak dan waktu menjadi musuh terbesar percakapan Paperpleased dan Tobucilhandmade. Yeah, hidup internet dan sulap paling mutakhir abad ini! Berkat mereka akhirnya percakapan kami berlangsung menembus pojok-pojok kehidupan. Menembus Jakarta Utara dan Bandung Timur…

Gimana, nih, cerita cikal bakalnya Paperpleased?
Cikal bakal Paperpleased ini terbentuk kira-kira agustus 2010 saat aku sedang terkagum-kagum sama indahnya corak-corak wallpaper di rumah orang tua. Karena papaku seorang arsitek/interior, beliau suka bawa contoh-contoh wallpaper utk dipertunjukkan ke klien-kliennya. jadilah aku bisa lihat-lihat dengan bebas setiap kali berkunjung. Dari sering melihat, kepikiran enaknya diapain, ya, kertas-kertas ini, karena kalau nempel di tembok rumah aja, kok, sayang rasanya, apalagi banyaknya sisa-sisa sample yang biasanya diloak atau dibuang. Pulang dari ngubek ngubek Google dan toko buku untuk mengumpulkan ide dan melihat-lihat apa saja yang sudah dikerjakan selama ini di dunia kerajinan kertas.
 
 
Ide awalnya gimana, tuh, sampai jadi produk-produk Paperpleased seperti yang sekarang? 
Jadi awalnya aku bikin kerajinan kertas, mulai dari origami, book binding, home décor, bikin kotak, apapun itu yg berhubungan dengan kertas dan menarik, aku coba. Tapi rasanya kok tetep enggak puas gimana gitu, mungkin karena sudah pernah dikerjakan sebelumnya dan biasanya proses pembuatannya terbilang ribet.  Aku kepengen sesuatu yang benar-benar baru tapi juga bisa dibuat tanpa peralatan canggih dan ramah lingkungan. Sampai suatu ketika, aku sadar yg selama ini saya suka itu hampir selalu berhubungan dengan bidang fashion, sesuai sekolah juga sebenarnya. Akhirnya aku mutusin untuk mencoba bikin dompet yang kayanya paling masuk akal utk dibikin dari kertas dengan teknik jahit. Pola dan desainnya sedikit menguras pikiran waktu itu karena kertas itu kalau dijahit tidak bisa dibolak-balik seperti kain. Jadinya aku harus bikin pola jahit yang “ramah” untuk kertas. Proses research dan trial-and-error ini berlangsung selama kira-kira 4 bulan lamanya sampai aku merasa cukup pede untuk mencoba menjualnya. Pertama kali, dibeli temen sendiri, wah rasanya seneng banget, trus baru iseng-iseng bikin blog sambil pengen liat respons orang, hehe.
 
 
Produk-produknya Paperpleased apa aja, nih?
Saat ini produk Paperpleased selain dompet, ada sampul passport, tempat kartu, dompet bi-fold, notebook, money envelope (semacam angpau), sarung handphone dan gantungan kunci.

Konsep produknya Paperpleased sebenernya gimana, tuh?
Jadi, konsepnya itu menggunakan sisa sample dan stock wallpaper dengan beragam coraknya sebagai bahan baku untuk membuat barang-barang kerajinan. Boleh dibilang ramah lingkungan juga, yah, karena memanfaatkan limbah kertas.
(selanjutnya baca di sini)

Minggu, 10 Juli 2011

Sindikasi Tobucil : Persemayaman Handmade Maelady

Halo-halo Bandung!

kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
 
 
Ini adalah wawancara Tobucilhandmade yang paling mengharu biru. Setidaknya bagi saya. Yap, sempat tertunda karena sebuah berita duka, semangat yang ditularkan Maelady kemudian menyadarkan saya bahwa hidup harus terus berjalan! Oke, lanjuttttt…. Meli sang mantan pekerja kantoran ini adalah otak di belakang layar hadirnya Maelady. Tanpa basa-basi lagi mari bercakap-cakap dengan Maelady!

Sebenarnya, apa saja, sih, produk-produk yang dibuat oleh Maelady?
Ya… Maelady itu sebenernya sarana pelampiasan ide-ide saya, jadi produknya macem-macem,  tapi yang paling pertama terealisir, ya, si plushies ini. Selain plushies, ada juga tas, buku mewarna, sarung bantal dan yang pasti,  ada produk lain yang masih bersemayam di otak, hehe. Kalau produknya sendiri, sih,punya ciri khas ada surface design-nya, baik itu dari printing, border, atau tekstur.
 
 
Awal terbentuknya Maelady gimana, tuh?
Jadi dulu tuh sempet kerja kantoran, tapi karena musti ikut suami, jadi resign. Terus di masa-masa senggang itu jadi pengen bikin usaha sendiri. Dulu mah masih ababil, mmm… sekarang juga, sih, hehehe, jadi maunya banyak banget. Akhirnya, setelah diukur kemampuan biaya dan waktu, diputuskan untuk bikin plushies dulu, terus dicoba jualan di Pasar Seni, eh, alhamdulilah ludes. Dari situ jadi keterusan. Dapet kenalan sesama crafter, ikutan bazaar-bazaar dan buka online shop di facebook.
 
Gimana, tuh, bisa muncul ide bikin-bikin produk-produknya?
Jadi dulu sempet jalan-jalan cucimata liat plushies dan lucu banget. Terus kayaknya bikinnya enggak sulit jadi saya coba bikin plushies pake gambar saya sendiri. Kalau produk-produk lain biasanya ide muncul setelah lihat pameran, browsing, atau disesuaikan dengan material yang ada. Jadi kalau adanya misalnya blacu, saya bikin sesuatu dari blacu. Kalau punyanya kanvas, ya, bikin tas dari kanvas.  Kalau masalah gambarnya sih, dari kecil emang udah suka ngegambar.  Ibu saya masih nyimpen gambar sayawaktu TK. Gambar ibu-ibu lagi belanja di tukang sayur, hahaha. Terus kuliah di senirupa juga. Tapi kalau kemampuan grafis komputer mah lebih banyak belajar dari temen waktu masih ngantor dulu.




 
Oh, ya. Rada loncat, nih. Kalau Maelady sendiri melihat dunia handmade lokal gimana?
Kalau sekarang jauh lebih berkembang dari beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena orang-orang juga sekarang lebih apresiatif sama produk handmade, jadi banyak yang mulai melirik untuk bikin produk handmade juga dansudah mulaiada sarana-sarana buat menyalurkan produknya, kayak Crafty Day, Inacraft, Colony dan bazaar-bazaar art ‘n’ craft. Tapi di Bandung baru Crafty Day aja yang kerasa mensupport crafter lokal. Lainnya masih agak mahal, uy. (Selanjutnya baca di sini)


Kamis, 30 Juni 2011

Sindikasi Tobucil : Hobi + Iseng + Ima = Papayamango

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Saya tidak ingat lagi siapa yang terakhir berhasil membuat saya datang ke Tobucil di siang bolong nan panas ketika secawan es cendol jauh lebih menarik dibandingkan menyusuri jejalanan Bandung yang makin berdebu itu. Wow, tapi tidak dengan hari ini. Demi bergosip bareng Papayamango, terdamparlah saya di Tobucil tepat pada pukul setengah satu siang! Ditemani berteguk-teguk kopi kemasan dan teh di dalam botol, percakapan bersama Karisma Mulyawati a.k.a Ima Papayamango yang konon disibukkan pula dengan aktivitasnya sebagai desainer sebuah perusahaan kerudung yang hobi jalan-jalan pun dimulai.


Apa, sih, sebenarnya yang dibuat oleh Papayamango?
Ya, macem-macem. Membuat aksesories lukis tangan. Kayak gantungan kunci atau gantungan ponsel. Bahannya, sih, dari kanvas-kanvasan yang diisi dengan isi boneka. 



Apa yang paling sulit dari membuat aksesories lukis tangan ini?
Meniru gambar… Ya, kalo ada yang pesen custom order. Kayak waktu itu ada yang mesen gambar Lady Gaga pengen dikartunin. Nirunya itu yang susah. Kalo yang pertama nyobain, itu ngelukisnya yang susah. 


Gimana, nih, awal kisah Papayamango?
Kalo awalnya, sih, iseng. Mengalir begitu saja. Ya, untuk nambah uang jajan. Mulainya semenjak kuliah. Jadi kepikirannya, tuh, ngeliat cat arklirik enggak kepake. Jadi iseng-iseng ngelukis, dan karena hobi juga. Jadi waktu itu masih bareng temen. Terus kita bikin catalognya juga disebarin ke kampus. Eh, ternyata pada mau. Banyak yang mesen. Kalo idenya sendiri bisa didapet dari ngeliat-liat majalah atau buku cerita. (baca selengkapnya di sini)

Kamis, 23 Juni 2011

Sindikasi Tobucil : Bandung dan jibaku ala Fanboy

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Lelaki asal Makassar ini adalah seorang pengelana, desainer musafir dari Timur Indonesia yang baru beberapa bulan ini nekad menetap di Bandung. Dengan bekal seadanya dan tingkat perkawanan yang masih sangat minim, Akbar Zakaria alias Abe mencoba peruntungannya di kota sejuk yang tak terlalu ramah ini. Saya yang senang mengintip kehidupan para petualang sudah sedari lama mengincar obrol Abe tentang petualanganya. Di sela kesibukan akademis yang kian meningkat dan menyebalkan, saya sempatkan barang sejenak untuk “mengganggu” Abe dan usahaclothing-nya yang tengah merangkak…

 Sejak kapan, nih, seorang Abe seneng desain?
Jadi suka dengan hal-hal yang berbau desain, sih, udah dari kecil, sejak SD. Waktu itu belum tahu apa itu desain grafis, tapi sudah seneng liat logo dan ngegambar logo. Logo-logo band kayak Oasis, Backstreetboys, Boyzone, maklum dulu kan jamannya boyband, hehehe… Trus juga kayak logonya Slank kalo untuk band Indonesia. Suka juga merhatiin logo-logo olahraga, semisal Juventus, Liverpool, AC Milan, Chicago Bulls, dan lain-lain. Waktu itu masih sebatas menggambar ulang, belum mencipta logo sendiri.

Menurut kamu, apa, sih, yang menarik dari dunia desain?
Banyak... Tanpa desain (grafis) dunia masyarakat modern enggak akan seberwarna ini. Coba bayangin aja kalo website favorit kita isinya cuma tulisan doing atau kalo komputer kita enggak ada apa-apa selain huruf dan angka, bisa-bisa kita mati kebosanan, hahaha.


Aih wacanais filosofis hahahaha. Oh, ya. Kamu belajar desain darimanakah?
Belajarnya otodidak banget. Sampai sekarang, sih, masih agak minder untk ngaku sebagai desainer grafis. Saya ngakunya sebagai "graphic design enthusiast" aja. Belajarnya dari baca-baca buku, baca e-book gratisan, dansharing dengan temen yang punya minat yang sama. Dulu di Makassar sempet ngebentuk komunitas pembelajar desain grafis, namanya Gradient (Graphic Design Development). Gradient itu komunitas di kampus,, tujuannya untuk mewadahi anak-anak Makassar yang seneng sama bidang desain grafis. Setiap bulan ada ngumpul-ngumpulnya, namanya Gradient Gathering. Karena emang pengetahuan secara teknis kita yang ada di Gradient minim, jadi sharing-nya lebih ke hal-hal yang sifatnya konseptual. Setiap tahun ada pelatihan untuk ngerekrut anggota baru, namanya Gradient Day. Rencananya, sih, tahun depan mau nyobain bikin Gradient Day yang berskala lebih luas. Pematerinya diusahain dari advertising agency yang ada di Jakarta, Bandung, atau Jogja. Sampai sekarang, sih, untuk Gradient Gathering-nya masih rutin jalan tiap bulan.

Sabtu, 18 Juni 2011

Sindikasi Tobucil : Menembus Tabir Masa Lampau

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Masa lalu bisa jadi tak berada di belakang kita dan masa depan sangat mungkin pula tak berada di depan. Keduanya mungkin berjalan beriringan, menemani setiap langkah, menyadarkan kita akan sesuatu...


Pernah mendengar nama Gua Pawon? Bagi kebanyakan warga Bandung dan Padalarang, Gua Pawon hanyalah sekadar sebuah gua yang telah ada sejak dahulu kala tanpa ada pengaruhnya bagi kehidupan mereka. Bahkan hanya sebagian kecil masyarakat Bandung yang mengetahui keberadaannya sejak gua ini dinyatakan sebagai situs prasejarah yang dilindungi. Letak Gua Pawon terdapat di Pasir Pawon, daerah Padalarang, Kabupaten Bandung, pada ketinggian antara 700 m di atas permukaan laut. Pasir Pawon merupakan bagian dari kawasan gugusan karst Gunung Masigit yang terletak 25 kilometer sebelah barat kota Bandung. Pada awalnya, letak gua yang berada di lokasi penambangan berbagai jenis batu itu hanya dianggap sebagai satu lokasi tempat bernaung disela penambangan batu atau tempat bermain anak-anak. Namun, gua tersebut menjadi cukup populer ketika ia diketahui menyimpan misteri kehidupan masa lalu. Ya, pada tahun 2003 lalu (dan sampai detik ini masih diteliti), di dalam gua itu ditemukan 20.250 tulang belulang dan 4.050 serpihan batu yang diperkirakan telah berusia sekitar 10 ribu tahun.


Gua Pawon sendiri sebenarnya terbentuk oleh proses geologi dalam waktu puluhan sampai ratusan ribu tahun yang lalu. Letak gua ini menghadap ke lembah yang subur sehingga merupakan tempat yang ideal sebagai tempat tinggal manusia prasejarah. Manusia prasejarah yang pernah menempatinya diperkirakan kelompok manusia prasejarah dengan jumlah yang tidak terlalu besar. Mereka merupakan kelompok manusia pengembara yang menelusuri pantai Danau Bandung Purba sambil berburu binatang untuk makanannya. Manusia Pawon kemungkinan hidup pada masa antara 10–6 ribu tahun yang lalu. Gua Pawon kemudian menjadi kian menarik karena di sana ditemukan pula artefak berupa perkakas serta senjata yang terbuat dari  batuan obsidian. Para ahli pernah menyimpulkan bahwa obsidian tersebut berasal dari Gunung Kendan di sekitar kawasan Nagrek, Garut. Artinya, bahwa pada masa purba tersebut telah terjadi transaksi jual beli bahan mentah atau juga para manusia purba ini telah mengembara mencari bahan mentah yang bagus jauh dari tempat asalnya. Apakah mereka mengembara dengan berjalan kaki ratusan kilometer? Ataudengan menggunakan rakit menyusuri danau Bandung? Hal tersebut belum dapat dipastikan hingga sekarang.


Lalu bagaimana bisa manusia prasejarah tiba-tiba menetap di Gua Pawon? Beberapa pakar Arkeologi, seperti Dr. Harry Truman Simanjutak, dalam beberapa tulisannya tentang manusia dan hewan masa purba yang datang ke wilayah Nusantara, menduga bahwa migrasi ini terjadi sejak masa Plestosen (empat juta-20 ribu tahun lalu).. Saat itu terjadi perubahan bentuk daratan, karena proses alami dari daratan jadi lautan, atau sebaliknya. Perubahan itu berlanjut pada zaman glasial (zaman es) di bumi bagian utara dan selatan, sedang di khatulistiwa berlangsung hujan dan iklim lembab (pluvium). Akibatnya, laut dangkal berubah jadi daratan. Kita pun lalu mengenal adanya paparan Sunda menghubungkan Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan sampai daratan Asia Tenggara. Di timur muncul paparan Sahul yang menghubungkan Irian dan Benua Australia. Kuat dugaan, pada zaman itulah manusia bermigrasi, menetap dan membangun kehidupan di suatu tempat, termasuk di Nusantara. Hal ini diperkuat dengan temuan artefak, fosil fauna, peralatan dari batu, tulang dan rangka manusia purba di Afrika, Eropa, Cina dan lainnya yang mirip dengan tinggalan yang dijumpai di Indonesia.
(selanjutnya baca di sini)

Jumat, 10 Juni 2011

Sindikasi Tobucil : Antara Handmade dan LSD

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
Ini adalah kisah yang tidak bermaksud romantis. Cerita sederhana tentang lelaki dan perempuan yang berwujud dalam diri Agugn dan Sekarpuri dan memutuskan untuk menikah, eh?? Hahaha. Yap, Setelah kemarin kehadiran ibu dan anak dalam Pyur!Handmade, kali ini TobucilHandmade sepertinya belum mau bosan untuk menghadirkan persekongkolan dua insan lainnya yang tak kalah dahsyat, tentang suami dan istri yang menjelmakan dirinya ke dalam Derau. Jelang siang Bandung yang kian panas, Agugn bercerita mengenai langkah kecil nan manis yang dilakukan oleh Derau...




Gimana, nih, awal kisah terbentuknya Derau? 
sebenernya ide awal bikin derau tuh sejak 2008 dibentuk oleh Agugn dan Sekarputi yang kebetulan satu kampus. Awalnya sih karena sering bikin-bikin aja tapi enggak tahu harus dikemanain setelah dibikin, hehehe… Akhirnya kita berdua setuju untuk bikin label DERAU ini yang berlandaskan pada skill dan keterampilan yang kita punya.

Apa aja, sih, yang dibikin sama Derau?
Sebenernya banyak. Mulainya mah dari skill masing-masing, saya kan seni grafis jadi bikin yang berbau teknik cetak manual, ada postcard, emblem atau patches, sarung bantal. sampe kaos dengan cetak cukil kayu. Kalo Puti, dari seni keramik. dia bikin kancing, miniatur tanaman, gantungan kunci, sampe piring, hehehe…


Semua dihajarlah ya, wkwkwk. Oh, ya. Kenapa dinamain Derau? 
Hahaha, awalnya sih “derau desau”, tapi di tengah jalan kita pikir Derau lebih oke dengan konsep barang-barang yang udah kita buat. Kalo di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “derau” punya arti tiruan bunyi hujan tertiup angin; gangguan dalam informasi yang menyebabkan menurunnya kualitas informasi. Nah, jadi barang-barang kita teh agak-agak mengganggu gitu. Maksudnya agak-agak ga penting juga, sih, hehedan warna-warna yang di pakai pun agak mengganggu penglihatan, terkesan berisik. 
(selanjutnya baca di sini)

Kamis, 02 Juni 2011

Sindikasi Tobucil : Duet Maut Pyur!Handmade

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
Ini adalah cerita mengenai salah satu kolaborasi paling mengerikan antara ibu dan anak. Yap Ibu Suciharti dan Suciarum adalah ibarat Batman dan Robin yang sulit terpisahkan dan selalu kompak menjamah keramaian dengan beragam karya-karya buatan tangannya yang super memabukkan, hehehe. Langsung saja dikebet kisahnya, yuk…

Pyur!Handmade ini apa, sih?
Pyur!Handandmade itu produk kerajinan tangan. Ada dua produsen di Pyur!Handmade, yang satu itu kayu lukis dibuatnya sama Arum, kalo ibu yang satunya lagi, jahit tulang seperti membuat tas, kalung, dompet, dan lain-lain.

Kapan, nih, Pyur!Handmade memulai gerakannya?
Kalo kayu lukisnya, Arum sudah dari tahun 2004. Kalo ibu sih baru dari satu setengah tahun yang lalu. 


Gimana awalnya Ibu tertarik berproduksi?
Jadi awalnya dulu ibu bikin tas jahit sendiri buat cucu. Tahu-tahu temennya banyak yang minta bikinin, jadi udah aja ibu bikin banyak terus jualan ama arum. Ikut-ikut ke pameran gitu ama Arum. Ya, jadi keterusan, hehe.
Kalau idenya sendiri?
Kalau idenya, ya sebenernya apa yang ibu atau cucu butuhkan itu ibu buat, kayak baju, celana, itu, kan, bikin sendiri. Nah, trus.kepikiran kalo bikin gini bikin bikin gitu kayaknya bisa. Ya terus nyobain, eh ternyata responnya bagus, banyak yang nanyain. Kalo idenya sendiri biasanya Arum tuh yang mengarsiteki. Jadi intinya ibu buat sesuatu yang belum atau masih jarang dibikin ama orang.

Senin, 23 Mei 2011

Sindikasi Tobucil : Emas Emas Ala KED

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Apa jadinya kalau kita menemukan sebuah kotak emas? Ow! Sudah barang tentu toko emas terdekat akan diserbu secepatnya! Ini duit, Cing! Ups, tapi kali ini,Tobucilhandmade tidak berkehendak berbicara mengenai toko emas apalagi membicarakan cadangan devisa berupa emas yang dimiliki Inggris yang konon didapatkan secara murah meriah dari Freeport. Kotak emas yang satu ini adalah buah kreativitas (TVRI banget gk sih bahasanya :p) dari Asri Radhitanti sang penggagas KED (Kotak Emas Design). Di tengah keramaian Crafty Days, percakapan super singkat kami terjalin akrab meski tak terlalu panjang.


Hmmm… Kok dinamain Kotak Emas, sih?
Ya… kan soalnya emas itu mengandung kebaikan. Jadi dinamain Kotak Emas soalnya semoga diliputi kebaikan dan KED jadi seperti emas, hehehe…

Apa aja, nih, yang dibuat KED?
Jadi KED itu berhubungan dengan desain grafis gitu. Produk-produknya ada macem-macem, ada jurnal, ada stempel, ada juga notebook, ya macem-macem.


Gimana cerita awal terbentuknya KED?
Awalnya sebenarnya dari freelance grafik design. Saya, kan, dulu freelancer gitu. Ya, terus, Keidean untuk bikin sesuatu. Ya, yang berhubungan dengan desain grafis. Terus Akhirnya bikin juga stationery.



Menurut Asri, apa, sih, yang bikin dunia handmade itu menarik?
Karena... yang jelas, sih, unik, jadi ada cirinya masing-masing dan produk-produknya itu tuh enggak massal…

Dapet darimana, nih, ilmu bikin-bikin handmade ini?
Saya kan basic-nya desain grafis, jadi kalo masalah desain udah belajar dari sekolah juga. Kalo ngerjain buku-buku sih otodidak aja.  (Selanjutnya baca di sini)

Jumat, 13 Mei 2011

On Day Monday Zine (ODM Zine)

Ondee mandeee...! Tak terasa 14 minggu sudah dilalui kesana kemari hujan maupun terik matahari. Perjalanan dan kesempatan ini menjadi hal yang sangat berharga buat kami.  Merekalah hal-hal inspiratif yang berhasil kami tangkap dan kami kemas dalam On Day Monday. (-: 

Dari Jogja, datang untuk CRAFTY DAYS, tidak membuat kami lupa untuk mengajak teman-teman On Day Monday. Mereka akan ikut serta di meja kami. Temukan mereka dalam sebuah zine sederhana yang berisi tentang 14 liputan terakhir dari rubrik On Day Monday di blog ini. 

Semoga zine ini mampu membuat lebih banyak orang tahu tentang hal-hal inspiratif yang berasal dari kota Jogjakarta dan sekitarnya. (-:


ODM Zine
Qty : 15pcs
Material : samson paper (fotocopied)

Jumat, 06 Mei 2011

SINDIKASI TOBUCIL : Memutar Keramik Nan Ciamik

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)

Terus terang, saya jarang sekali intips-intips karya keramik kecuali beberapa pot dari tanah liat di depan rumah dan gelas keramik model jadul ala film silat di TV sampai kemudian di suatu sore dengan basah hujan pada jendela kamar (alah bahasanyaaaaa), bercakap-cakaplah saya dengan Tisa Granicia, salah seorang pendiri Kandura keramik, para pembuat keramik inovatif nan kreatif plus unik. Mengusung tema keseharian, Kandura memuaskan dahaga saya untuk lebih dalam menyelami dunia perkeramikan. Ahiwww, mari dikebet saja sodara-sodara!


Ceritain, dong, awal terbentuknya Kandura…
awalnya ajakan dari Fauzy Prasetya (Uji) dan Bathsebha Satyaalangghya (Ghia). Kami teman satu angkatan. Terus ada juga Nuri Fatima yang gabung semenjak 2010. Uji asalnya dari studio desain produk dan Ghia sama kayak saya dari studio seni keramik juga. Selepas lulus tahun 2005, Uji melempar ide ke kami berdua untuk bikin studio keramik sama-sama, ide itu kami sambut dengan baik. Lalu kami mulai udunan untuk beli alat-alat seperti tungku dan alat alat lainnya. Sejak saat itu kami mulai usaha kami sampai sekarang. 


Apa, sih, sebenernya yang bikin kalian tertarik dengan keramik?
Kami tertarik dengan material tersebut karena keramik berasal dari tanah liat, sifatnya yang plastis bisa meniru bentuk apa aja gitu, serta ribuan teknis yang bisa kami eksplorasi terus seperti tidak pernah ada habisnya. Singkat kata keramik itu Surprising! Terus juga studio keramik masih jarang di Indonesia, apalagi studio yang mengkhususkan dirinya dengan mengeluarkan desain desain yang bagus, hehe. (selanjutnya bisa baca di sini)

Kamis, 28 April 2011

SINDIKASI TOBUCIL : Menyalakan Kembali Batik

Halo-halo Bandung!
kabar menarik dari Kota Kembang ini merupakan program sindikasi antara Ojanto dan Tobucil Handmade, dimana setiap minggunya kami akan bertukar cerita antara Jogjakarta dan Bandung :)
Dua tahun lalu, batik menjadi hal seksi yang diperbincangkan. Pasalnya, Malaysia, sebagai negara tetangga, tiba-tiba mematenkan batik sebagai hasil kekayaan budayanya. Tentu saja hal ini memicu berbagai reaksi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kurangnya perhatian pemerintah dalam memertahankan kultur lokal ditengarai menjadi penyebab mengapa beberapa warisan budaya leluhur Indonesia banyak yang dipatenkan oleh negara lain. Bandingkan dengan Malaysia, tahun 2004 lalu, pemerintah Malaysia bahkan telah mencanangkan kampanye Malaysia Batik- rafted for the World. Lewat kampanye itu, semua pengusaha batik di Malaysia diajak untuk semakin meningkatkan kreasi mereka. Pengusaha-pengusaha batik digerakkan untuk membuat batik-batik yang disesuaikan dengan tren mode yang sedang disukai masyarakat luas.


Itu dua tahun yang lalu. Bagaimana dengan sekarang? Yang pasti, kehebohan batik di kalangan akar rumput tak pernah padam. Sempat menjadi trend di hari Jumat, Pada Piala AFF lalu, terbetik seruan untuk menggunakan batik ketika menonton partai puncak super panas antara Indonesia-Malaysia.

Batik sendiri sebenarnya memiliki makna yang sangat kaya karena dikerjakan oleh para perajin batik  Indonesia dengan penuh perasaan. Goresan canting di atas kain pun tidak semata-mata mengikuti pola yang ada. Dengan latar belakang perajin yang berbeda, hasil batik bisa berbeda pula. Ini sebabnya mengapa Indonesia sangat kaya dengan motif batik. Yogyakarta saja, misalnya. Dari satu provinsi yang tidak terlalu besar itu saja, terdapat lebih dari 500 motif batik, itu baru satu daerah, belum daerah-daerah lainnya seperti Bali, Jawa Barat, atau Jawa Timur. 

Banyaknya motif ini sebenarnya bisa melahirkan keuntungan besar seandainya ditangani secara serius. Bayangkan, betapa banyak batik yang bisa dipatenkan dan menjadi kekayaan Indonesia. Belum lagi ciri khasnya yang begitu elegan sudah dapat dipastikan membuat batik memiliki kans yang sangat besar untuk digemari dan masuk ke ranah mode internasional. Batik motif mega mendung, misalnya. Motif ini merupakan motif khas batik pesisir yaitu dari Cirebon atau dikenal dengan istilah Cirebonan. motif mega mendung sangat unik karena seperti awan menggantung di langit. Terdiri dari sembilan lapis lingkaran serupa awan dengan tingkat ketebalan dan gradasi warna berbeda. Motif ini biasanya dipadukan dengan motif burung. (selanjutnya baca di sini)

Selasa, 26 April 2011

Crafty Days #5, Sabtu- Minggu, 14-15 Mei 2011, @tobucil


SALE BENANG RAJUT TIPI UP TO 50%

BAZAAR HANDMADE 14-15 Mei 2011 Pk. 09.00 - 18.00 WIB
Bagus Bagus
tilunik!
Anything Sunday
OCAROL
ARC Pernik

WORKSHOP HANDMADE :
Sabtu, 14 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Merajut/knitting bersama klab merajut (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.00 WIB Workshop Yubiami bersama The Men Who Knit (Gratis)
Pk. 13.00 - 14.30 WIB Workshop Boneka Pom Pom bersama The Mogus (Gratis)                      

Minggu, 15 Mei 2011
Pk. 10.00 -12.00 WIB Membuat Boneka Bantal bersama Idekuhandmade
(Tempat terbatas & GRATIS)
Pk. 10.00 -12.00 WIB Workshop Scrap Book. 
(Biaya alat dan bahan Rp. 10.000/peserta bersama Klab Scrap Book)
Pk. 13.00 -15.00 WIB Workshop Merenda/Crochet bersama klab merenda (GRATIS)

CRAFTYPRENEUR FORUM, Sabtu 14 Mei 2011, Pk. 15.00 -17.00 WIB
Obrolan santai Berbagi pengalaman memulai usaha handmade.
Bersama: Martha Puri (idekuhandmade, Jakarta),
Ojan & Putri (Nest of Ojanto, Yogyakarta),
Ika Vantiani (Vantiani, Jakarta),
Tarlen Handayani (Vitarlenology & Pendiri Tobucil & Klabs, Bandung).

MUSIK SORE, Minggu 15 Mei 2011, Pk. 15.30 - 17.30 WIB
Menampilkan: 
Yustinus Ardhitya
Grace and Tesla
Ammy Alternative Strings

Informasi lebih lanjut:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56  Bandung  Telp/Fax 022 4261548
www.tobucil.blogspot.com  www.tobucilhandmade.blogspot.com
twitter: tobucil   fb. www.facebook.com/tobucil

Share This

Related Posts with Thumbnails