followers

Tampilkan postingan dengan label Jogja Crafter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja Crafter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Oktober 2012

Dokumentasi : Craft Carnival 2012

Halloo..
Akhirnya acara Craft Carnival 2012 sudah dilewati. Seru sekali. Banyak bertemu dengan orang-orang yang mampu memberikan suplemen buat saya pribadi. Walaupun tahun ini tidak ikutan jualan, tapi tetep bisa seneng. hehe..
Nah, berikut adalah video dokumentasi singkat tentang Craft Carnival 2012.. Silakan ditengok, semoga bermanfaat buat kita semua..
Sampai jumpa di Craft Carnival berikutnya!! :D


Senin, 01 Oktober 2012

CRAFT CARNIVAL #2


CRAFT CARNIVAL #2 : "Handmade Nation"
13-14 Oktober 2012 | Bentara Budaya Yogyakarta

more info : 

Senin, 15 Agustus 2011

On Day Monday #25 - Nurify "Ledidak"

Minggu lalu merupakan minggu yang cukup membuat resah. Karena human error, selama beberapa hari akun Google kami tidak dapat diakses. Sempat ketar ketir ketika mencoba membuka page blog ini dan menemukan pengumuman bahwa blog sudah dihapus. Untung saja bantuan datang dari teman-teman terdekat dan kami bisa mendapatkan akun kami kembali. Rasanya lega bukan main. Karena hal ini pula, minggu lalu kami terpaksa menghentikan beberapa kegiatan rutin kami seperti Sindikasi Tobucil dan On Day Monday. Namun sepertinya waktu beristirahat sudah cukup, minggu ini kami kembali lagi dengan On Day Monday, menghadirkan cerita dari seorang crafter sekaligus seniman, bernama Nurify.

-------------


Merelakan Pasar, Memilih Idealisme

Cinta pertama terkadang memang susah untuk dilupakan. Walaupun sudah ditinggalkan sekian tahun, ketika rasa penasaran menjadi bumbunya, tidak terlalu sulit untuk memanggilnya kembali. Kurang lebihnya inilah yang saya bayangkan terjadi pada Nurify. Bukan cinta pertama dalam konsep hubungan percintaan pria dan wanita, tapi cinta pertama pada bakat dan hobi yang telah lama ditinggalkannya.


Sejak kecil Nurify suka menggambar. Dia memiliki bakat itu. Lalu distraksi demi distraksi mengalihkan perhatiannya, hingga akhirnya dia bertemu kembali dengan dunia seni yang membuatnya kembali menggambar. Kemampuannya ini digunakannya untuk mentransformasi ide-ide yang ada di kepalanya. Tidak puas dengan bentuk-bentuk dua dimensi, Nurify lalu mencoba mengolah bentuk seni yang lain yaitu bentuk-bentuk tiga dimensi. Dari bisnis Keluarga, Nurify akrab dengan bahan-bahan tepung dan adonan kue. terpikir olehnya bahwa bahan-bahan ini dapat diolah menjadi sesuatu yang lain, yaitu asesoris.


Pips kemudian lahir. Asesoris berupa kalung dan anting-anting yang terbuat dari bahan dasar clay. Awalnya Nurify mencari tau melalui media internet. Setelah mencoba dan mengulik bahan-bahan seperti tepung dan lem putih, akhirnya dia menemukan resep claynya sendiri. Resep inilah yang selalu digunakannya dalam menciptakan berbagai bentuk asesoris di bawah payung Pips. Untuk waktu yang cukup lama, Pips telah memiliki pasar dan penggemar. Yang menjadi kekuatannya adalah selera pasar. Nurify mengakui, ketika menjalankan Pips, selera pasar adalah nomer satu. Dia bahkan menyambut semua pesanan dan mengikuti keinginan pelanggannya. Ternyata hal ini dirasa cukup melelahkan, apalagi setelah kegiatan baru mulai digelutinya.




Selama tiga bulan lamanya, Nurify disibukkan dengan kegiatan barunya sebagai seorang seniman. Dia mengikuti program Artist In Residence di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Mungkin dari sinilah Nurify mulai disusupi oleh idealisme. Karena setelahnya, dia memutuskan untuk meninggalkan Pips, dan memulai sesuatu yang lebih konseptual bernama Ledidak. Masih bermain-main dengan adonan clay buatannya, menurut Nurify asesoris a la Ledidak lebih memiliki karakter dibandingkan dengan Pips. Pada Ledidak, Nurify murni bermain-main dengan ide terliarnya dalam membuat asesoris. Dia tidak lagi berpatokan pada selera pasar, pun juga tidak lagi menerima orderan sesui permintaan pelanggan, sebuah keputusan yang ternyata masih sulit diterima oleh penggemar Pips. Nurify mengakui, Pips memang mendatangkan keuntungan yang lumayan. Namun dia tidak menyesal, karena dengan Ledidak, dia dapat menikmati apa yang dia kerjakan.




Saat ini Nurify masih disibukkan dengan kegiatannya sebagai seorang seniman. Menggambar dan memadukan clay pada kanvas, untuk persiapan pameran berikutnya. Nurify juga berniat melanjutkan studinya ke pascasarjana ISI (Institut Seni Indonesia) mengambil jurusan fine art, sambil mengolah konsep yang lebih matang untuk Ledidak. mari kita nantikan :)


Nurify "Ledidak"
http://pips-shop.blogspot.com/


Ditulis oleh : Putri
Foto oleh : Putri dan dok.pribadi Nurify

Senin, 01 Agustus 2011

On Day Monday #24 - Natura Kusumadewi, Owlie Lolie

Peluang Bisnis Burung Hantu


Berawal dari tempat pensil owl buatan tangannya sendiri, Natura yang akrab disapa Nana memulai Owlie Lolie. Buatan tangan Nana ini ditaksir banyak temannya. Pada saat itulah Nana mulai menerima pesanan custom berbagai macam produk dari bahan flanel, katun dan kanvas. Tadinya, produk-produk yang dihasilkan Nana hanya dijual dengan harga Rp 10.000,-. Lama kelamaan, ketika dirasa tuntutannya semakin banyak, Nana mulai mencari cara untuk menaikkan nilai produknya. Misalnya saja dengan menambah berbagai fitur seperti busa dan furing.


Dalam produksi Owlie Lolie, Nana masih melakukan semua prosesnya sendiri. Mulai dari mencari bahan, membuat pola, menjahit, sampai foto produk. Bisa dikatakan Nana adalah single fighter dalam hal ini. Karena ini jugalah Nana membuat produk by order. Artinya Nana membuat contoh produknya dulu untuk nantinya akan diperbanyak sesuai dengan pesanan. Produk-produk yang sudah dihasilkannya sampai saat ini adalah tempat pensil, tempat hp, keset handuk, tas, dan lain-lain. Saya sempat bertanya kepadanya, terpikirkah untuk keluar dari sistem made by order ini dan memproduksi produk dengan kuantitas yang lebih banyak.Ternyata Nana sedikit menolak ide ini. Dia ingin tetap menjaga esensi dari setiap produknya, yaitu personal dan eksklusif. Bahkan beberapa tawaran re-seller yang datang padanya juga sempat ditolak. Seperti inilah idealisme Nana dalam Owlie Lolie.



Jika berbicara mengenai Idealisme, burung hantu yang menjadi ikon Owlie Lolie saat ini sangat mewabah. Hal ini ternyata pernah mengusik idealismenya. Nana mengaku, dia sempat terpikir untuk meninggalkan burung hantu karena ini. Namun ternyata dia terlalu sayang dengan burung hantu untuk meninggalkannya. Kata Nana, burung hantu adalah ikon yang membuatnya terjun ke dunia ini. Burung hantu pula yang menjadi peluang bisnis baginya, dengan keuntungan yang lumayan. Lagipula, walaupun bentuknya serupa, Nana tetap yakin bahwa barang-barang handmade akan berbeda jika dikerjakan oleh dua orang yang berbeda. Berdasar keyakinan itulah, Nana tetap yakin dengan image burung hantu yang ada pada Owlie Lolie.



Sekarang Nana tercatat sebagai mahasiswi Gizi UGM. Sebuah jurusan yang jauh memang dari apa yang dia lakukan sekarang, namun ini tidak akan membuatnya berhenti. Justru Nana bersama dengan teman-teman seangkatannya di SMA Negeri 3 Yogyakarta sedang serius menggarap sebuah website toko online yang nantinya akan menjadi wadah berjualan mereka. Sementara untuk Owlie Lolie, Nana sudah mempersiapkan beberapa produk baru dan mencoba banyak eksplorasi di luar burung hantu.

Natura Kusumadewi - Owlie Lolie
 
tulisan oleh : Putri
foto : Dok. Pribadi Nana

Senin, 25 Juli 2011

On Day Monday #23 - Forget Me Not

Asesoris Si Gadis Aneh

Perkenalkan, namanya Ida Ayu Melati, biasa dipanggil Ley. Dari luar dia seperti mahasiswi biasa yang sederhana. Celana jeans, t-shirt dengan rambut dikuncir seadanya. Namun begitu melihat asesoris-asesoris bikinannya, ataupun membaca blog pribadinya, baru terlihat betapa banyak hal-hal ajaib berseliweran di kepalanya.


Kebanyakan orang menganggapnya aneh dengan membuat desain asesoris yang tidak biasa. Pada saat yang bersamaan, asesoris bikinan Ley juga terlihat cute dengan perpaduan warna-warni feminin.Ley mulai membuat asesoris di tahun 2010. Asesoris bikinannya diberi nama Forget Me Not. Ada cerita menarik di balik nama ini. Ley cerita, Forget Me Not adalah nama bunga kecil yang biasa tumbuh di daerah pegunungan. walaupun bungannya kecil dan sederhana, tapi banyak orang yang mengenali dan menyukai bunga ini. Begitu pulalah harapan yang terselip pada nama ini. Ley berharap asesoris-asesoris ciptaannya bisa dikenal banyak orang, walaupun ukurannya kecil dan bentuknya sederhana.



Menurut Ley, yang terpenting dalam sebuah produk adalah idenya, bukan material atau teknik membuatnya. Itulah yang menjadi pegangannya ketika menciptakan sebuah desain asesoris. Dia mencoba bermain-main sejauh-jauhnya dengan sebuah material, dan membawanya keluar dari pola-pola mayoritas asesoris yang dijual di toko-toko. Menurut Ley juga, orang-orang akan menganggap sesuatu aneh karena tidak terbiasa dengannya. Karena itu penting baginya untuk memakai sendiri asesoris-asesoris buatannya. Hal ini dianggap Ley sebagai semacam presentasi untuk asesorisnya. "asesoris yang aku bikin itu beda, orang-orang gak akan kepikiran make asesorisku kalau gak pernah liat dipake orang" begitu kata Ley.


Sekarang ini kesibukan Ley masih banyak berkutat pada bidang akademis. Sesekali dia juga menari untuk menyalurkan hobinya. Karena kegiatannya yang cukup banyak, terkadang waktu menjadi kendala bagi Ley untuk menciptakan asesoris-asesoris baru. Namun Ley selalu mengusahakan minimal setiap bulan ada satu produk yang dihasilkannya. Hal ini dilakukannya untuk sebuah target. Dia ingin lebih serius di sini, karena sudah terlalu banyak ide-ide yang menumpuk dan harus segera direalisasikan.

meet Ley here :
tulisan oleh : Putri
foto : Dok. Pribadi Ley

Senin, 13 Juni 2011

On Day Monday #17 - Youthdew

Pompom a la Embun Muda
Dari sekian banyak kreasi kerajinan tangan yang ada, menurut saya pompom adalah salah satu yang paling simpel namun tetap memiliki keunikan. Simpel karena memang cukup mudah membuatnya. Hanya dengan gulungan benang wool yang padat, ikatan yang kencang dan sedikit mencukur benang di sana-sini maka jadilah sebuah bulatan pompom yang sempurna. Unik, karena kita bisa secara random mencampur banyak jenis benang dengan berbagai warna, dan hasil akhirnya selalau saja mengejutkan. Namun bagi saya, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu yang lain dari sebuah pompom. Sesuatu yang tidak biasa, namun hasilnya tetap bisa dinikmati.

Dalam hal kreasi pompom, saya pernah dibuat terkagum-kagum oleh Moel The Mogus yang membuat boneka Monster Gurita dari bulatan-bulatan pompom yang dirangkai. Coba saja lihat di sini, pompom bisa berubah menjadi boneka Mogu yang solid. Lalu kemarin, saya sekali lagi dibuat terkagum-kagum oleh seorang perempuan yang juga bisa menyulap pompom menjadi sesuatu yang sangat manis. Mari berkenalan dengan Made Primaswari W, si Embun Muda yang merangkai pompom menjadi kalung cantik a la Youthdew.

Sebenarnya Youthdew lahir sudah sejak lama. Kira-kira di tahun 2006, Mbak Prima yang memang menggemari barang-barang vintage ini mulai membuat sesuatu dengan bahan baku baju-baju secondhand. Dia memanfaatkan motif-motif unik dari baju-baju ini untuk dijadikan aplikasi pada tas tangan buatannya. Karena banyak yang meminati, akhirnya bisnis inipun menjadi lebih serius. Produk yang cukup melegenda dari Youthdew adalah Travelling Bag yang memiliki banyak aplikasi di dalamnya, namun tampilannya tetap cute dengan kesan vintage. Setelah berjalan sekitar dua tahun, Youthdew kemudian vakum sejenak karena kesibukan Mbak Prima bekerja di sebuah LSM. Setelah itu Mbak Prima menikah, re-sign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga :D
Jangan salah, menjadi ibu rumah tangga tidak menghentikan Mbak Prima untuk tetap berkarya. Justru ini menjadi tiket baginya untuk kembali menghidupkan Youthdew. Mulai tahun 2010 akhirnya Youthdew kembali berproduksi. Travelling Bag andalannya hadir lagi, plus kali ini Mbak Prima mulai menciptakan sesuatu yang baru yaitu kalung pompom.


Ah, saya baru sekali ini melihat pompom dalam bentuk yang sangat manis. Apalagi pompom buatan Mbak Prima hadir dalam berbagai campuran warna benang. Ada yang warnanya random, ada yang menjadi seperti semburat-semburat, ada yang belang-belang, dan zigzag! Tidak heran kalo Mbak Prima mengakui betapa dia dibuat jatuh cinta oleh pompom. Menurut Mbak Prima, pompom itu tak terbatas kemungkinannya untuk diolah. Dengan kreativitas dan banyak referensi tentu saja, pompom bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih unik.


Tentang nama Youthdew, ternyata nama ini diambil dari produk parfum pertama keluaran Estee Lauder. Parfum dalam bentuk sabun mandi ini adalah produk yang mentransformasikan Estee Lauder dari yang tadinya sekedar perusahaan keluarga yang sedang berkembang, menjadi bisnis yang bernilai jutaan dollar. Kisah sukses seorang Estee Lauder adalah kisah yang begitu menginspirasi Mba Prima dalam menjalankan usahanya. Selain Estee Lauder, banyak pula hal-hal menarik lainnya yang menjadi inspirasi mba Prima, dan bisa kita temukan di blog pribadinya di sini.

Nama Youthdew yang juga berarti Embun Muda, akhirnya menjadi semacam trademark bagi Mba Prima. Sampai-sampai banyak yang mengenalnya dengan nama Embun ketimbang Prima. Bagi saya embun merupakan hal pertama di pagi hari, selalu baru dan menyegarkan. Semoga dengan filosofi sederhana ini Youthdew bisa terus menciptakan kreativitas yang selalu baru dan menyegarkan :D 


Youthdew
email : youthdewshop(at)yahoo(dot)com

ditulis oleh : Putri
foto : dok. pribadi

Senin, 06 Juni 2011

On day Monday #16 - Prihatmoko "Moki" Catur

Tresno Jalaran Soko Kulino

Sepertinya kalimat diatas adalah judul yang pas untuk On Day Monday kali ini. Selain karena ini adalah ucapan yang terlontar dari si empunya cerita sendiri, kalimat ini juga dengan tepat menggambarkan perjalanan karya-karyanya hingga sekarang. Perkenankan saya memperkenalkan orang hebat satu ini, Prihatmoko Catur, yang akrab dipanggil Moki.



Berasal dari keluarga penyablon, Moki memulai pergelutannya di dunia ini sejak SMA. Ketika itu dia bersekolah di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa, sekarang menjadi SMK 4). Moki dulu sering membantu kakaknya yang memang bekerja di sebuah perusahaan t-shirt yang cukup ternama. Sejak itu, dunia sablon menjadi sangat dekat dengannya, dan diapun akhirnya jatuh cinta.



Setelah melanjutkan jenjang pendidikan ke Institut Seni Rupa jurusan Seni Grafis, Moki mulai mengaplikasikan teknik sablon pada karya-karyanya. Sebagian besar karyanya yang menggunakan teknik sablon adalah karya lukis. Dan karyanya ini sudah membawanya ke beberapa pameran dimana-mana, baik itu tunggal maupun bersama. Yang terakhir adalah pameran bersama dengan beberapa seniman Jogja lainnya di Australia.



Moki memang adalah seorang seniman, yang piawai melukiskan bentuk-bentuk indah di atas kanvas. Namun tidak untuk bentuk wajah. Moki mengakui, menggambar wajah itu sulit, karena itu dia menggunakan teknik sablon. Dengan sablon, wajah siapapun, dengan detail serumit apapun, bisa dihadirkan di kanvas lukisnya. "Sebuah kekurangan yang menjadi kelebihan" begitu kata Moki.





Selain menciptakan karya, Moki juga membuat beberapa produk yang disebutnya dengan produk sandang. Di bawah nama Kribi-Krispi, Moki menampilkan karya-karyanya dalam bentuk kaos dan dompet. Membuat produk sebenarnya bukan hal baru baginya. Sejak mengenal dunia sablon, Moki sudah mulai membuat produknya sendiri seperti kaos dan stiker. Dan walaupun sekarang baginya membuat produk bukanlah hal yang utama, namun Moki memperlakukan produknya hampir sama dengan ketika dia membuat sebuah karya. Produknya tetap personal, dan tidak dibuat banyak.


Yang membuat saya kagum adalah, Moki yang seorang seniman, yang sudah memajang karyanya di banyak pameran, dan sudah pergi ke banyak tempat, adalah orang yang murah hati untuk urusan ilmu. Tidak tampak keengganan ketika saya dan Ojan bertanya ini itu seputar teknik sablon. Tidak hanya memperlihatkan karyanya saja, Moki juga memperlihatkan "dapur"nya kepada kami. Bahkan Moki bercerita dengan cukup detail bagaimana sebuah karya bisa dihasilkannya. Tidak cukup sampai disitu, Setelah wawancara ini selesai, kami pulang membawa oleh-oleh darinya berupa komik! 


Bukan komik superhero tentu saja, apalagi komik hentai. Komik yang kami bawa pulang adalah komik asli bikinan Moki. Selain menguasai teknik sablon dan karya lukisnya, Moki memang terkenal dengan karya komiknya. Berbeda dengan karya lukis yang terlihat melankolis, karya komik milik Moki adalah komik yang kocak. Coba saja lihat komik "Tips dari Tipo" di sini, sungguh bisa dijadikan obat galau haha..



Akhir kata, tentu saja kami ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada Mas Moki yang telah bersedia berbagi cerita dan ilmu di On Day Monday. Semoga selalu siap menerima kunjungan kami untuk pelajaran sablon berikutnya :p


Prihatmoko "Moki" Catur, karya-karyanya bisa dilihat di ;

Senin, 30 Mei 2011

On Day Monday #15 - Papermoon Puppet Theatre

Sudah tiga kali hari senin terlewat begitu saja tanpa cerita dari orang-orang hebat dari Jogja di On Day Monday. Keadaan hiatus yang cukup lama ini membuat kami rindu bertukar cerita dengan mereka. Sesuai dengan janji kami, On Day Monday kembali kami "on"-kan dan dibuka dengan sebuah cerita dari pemain dan pencipta boneka, Papermoon Puppet Theatre.


Menceritakan tentang Papermoon Puppet Theatre artinya bercerita tentang dua orang hebat di dalamnya, Ria dan Iwan. Sebenarnya saya mengenal Ria sudah cukup lama. Kalau dihitung-hitung, hampir enam tahun kami saling kenal. Namun obrolan kemarin sore di rumahnya terasa seperti berkenalan kembali dengannya. Sosoknya masih sama seperti yang terakhir kali saya ingat, mungil, ceriwis dan penuh semangat. Dan kemarin sore, untuk pertama kalinya saya mengetahui apa yang menjadi passionnya, kecintaannya dan juga pekerjaannya bersama dengan suami sekaligus partner kerjanya, Mas Iwan. 


Papermoon yang sekarang adalah anak yang dilahirkan oleh Ria dan Iwan. Sudah tumbuh besar dan aktif bergerak, bermain, belajar, menyebarkan virus-virus teater boneka kepada banyak orang. Papermoon yang sekarang, sudah terbang ke banyak tempat, dan mementaskan banyak judul. Papermoon yang sekarang, jelas tidak akan ada jika saja Ria dan temannya tidak memulainya dulu di tahun 2006. Dimulai dari sebuah perpustakaan dan studio workshop kecil untuk anak-anak, Papermoon kecil hanya dapat berjalan sebulan lamanya. Gempa yang mengguncang Jogja di bulan Mei 2006 otomatis menghentikan semua kegiatan perpustakaan dan workshop. Kegiatan kemudian dialihkan pada program trauma healing bagi anak-anak korban gempa ketika itu. Bekerjasama dengan beberapa NGO, Papermoon kecil mulai dikenal dan menjadi magnet bagi banyak volunteer untuk ikut bergabung. Kegiatan workshop menggabungkan antara seni rupa dan seni pertunjukan. Ria mengajak teman-teman volunteer untuk membuat boneka dari barang-barang bekas, dan kemudian mementaskannya untuk menghibur para korban gempa.Inilah yang merupakan embrio dari Papermoon Puppet Theatre.


Selama kurang lebih setahun berjalan, Ria akhirnya harus menentukan identitas Papermoon. Apakah akan terus berkonsentrasi pada perpustakaan dan workshop untuk anak-anak, atau mengikuti passionnya dalam seni pertunjukan boneka, yang tentu saja tidak melulu diperuntukkan bagi anak-anak. Dari proses ini, Ria akhirnya memutuskan fokus pada teater boneka, dimana dia bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah, dan Iwan yang bertindak sebagai visual artist. Lahirlah Papermoon Puppet Theatre yang kemudian menjadi magnet bagi kesempatan-kesempatan luar biasa bagi Ria dan Iwan. Salah satunya adalah beasiswa yang mereka dapatkan untuk belajar mengenai puppet theatre dari 70 seniman di New York selama 6 bulan lamanya. Selain itu, Papermoon Puppet Theatre juga telah membawa Ria dan Iwan untuk melakukan pementasan dan mengikuti berbagai festival di luar dan dalam negeri. Proses kreatif Papermoon Puppet Theater menurut saya sangat D.I.Y. Ide cerita, Naskah, hingga boneka dan properti panggung semuanya dilakukan dan dibikin sendiri. Semuanya lahir dari tangan-tangan ajaib milik Ria, Iwan dan dibantu oleh beberapa teman-teman Papermoon. Salah satu karyanya yang membuat saya terpukau (sekaligus berkaca-kaca) adalah Mwathirika, yang ceritanya sarat akan sejarah Bangsa Indonesia. Menurut Ria dan Iwan, inilah kelokalan yang dibawa Papermoon. Cerita yang dipentaskan Papermoon adalah cerita yang sangat dekat dengan kehidupan orang-orang di Indonesia.


Ah, terlalu panjang rasanya daftar pencapaian Papermoon jika harus saya sebutkan satu persatu. Negara mana saja yang telah mereka datangi, tempat mana saja yang pernah mereka kunjungi, siapa saja yang telah mereka temui, institusi mana saja yang telah memberikan penghargaan, atau project-project apa saja yang telah dan akan mereka kerjakan. Semuanya bisa kita tengok di sini http://kuwacikecil.blogspot.com/ dan di sini http://www.papermoonpuppet.com/. Bukan karena malas menuliskannya, tapi menurut saya, mengunjungi langsung blog-blog ini dan membaca langsung tulisan Ria yang penuh semangat mampu menularkan semacam energi yang sama dengan apa yang diceritakannya. Energi ini pula yang saya rasakan ketika bertukar cerita dengan Ria dan Iwan kemarin sore. Saya kagum dengan semangat mereka, dengan passion mereka, dengan bagaimana mereka melihat segala sesuatunya seperi anak kecil yang tidak pernah berhenti penasaran dan mencari tahu. Karena itu dengan ini saya mendeklarasikan diri sebagai fans mereka!! :D


Nah, sebelum mengakhiri tulisan panjang ini, saya ingin memberikan sedikit bocoran tentang project-project mereka selanjutnya. Saat ini mereka sedang berada di Singapura untuk mengikuti festival pertunjukan berskala internasional, kemudian di bulan Juli mereka akan mengadakan pementasan di Kota Tua Jakarta, disusul dengan pameran tunggal di Singapura. Dan gong-nya adalah, sebuab pementasan yang sudah dipersiapkan untuk akhir tahun di Jogja, yang katanya akan dilakukan di venue yang tidak biasa (Saya sudah reservasi dari sekarang untuk ini!! :D). Terimakasih Ria dan Mas Iwan untuk obrolan "gendut"nya, juga untuk kopi, dan oleh-olehnya. Semoga Papermoon terus menjadi magnet dan penyebar virus teater boneka dimana-mana. 


Senin, 25 April 2011

On Day Monday #14 - Elia Nurvista

Si Penyulap Awul-Awul
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang mampu menyulap barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki daya guna lebih. Ditambah lagi dengan hasil sulapan yang ciamik membuat mata termanjakan oleh bentuknya yang unik. Elia Nurvista, adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan itu. Ditangannya, baju-baju bekas berubah menjadi dompet-dompet cantik berwarna-warni.


Berawal dari hobinya berburu baju-baju seconhand (di Jogja populer dengan istilah awul-awul), Elia bersama dengan temannya, Dina, memulai usaha membuat dompet-dompet yang diberi label Simalakamma. Baju-baju bekas ini memiliki motif dan corak yang luar biasa indah, namun tidak sedikit dari baju-baju itu yang tidak dapat digunakan. Entah karena bentuknya yang tidak sesuai, ukurannya yang tidak pas, atau beberapa bagian yang rusak karena usia. "ketoke ki mendingan diganti dadi liane malah karuan le faedah" (kayaknya tuh lebih baik diganti jadi barang lain malah lebih berfaedah) ujar Elia mengenai baju-baju bekas yang dibelinya. Dari sinilah Elia mulai membuat barang-barang baru seperti tas, pouch dan dompet menggunakan bahan dari baju awul-awul.

Melihat produk-produk yang dihasilkan Elia rasanya seperti melihat sebuah karya seni. Menurutnya, latar belakang pendidikannya di Institut Seni Indonesia jurusan desain interior banyak memberikan pengaruh dalam proses kreatifnya. Tidak hanya menciptakan sebuah desain dan perpaduan motif yang unik, Elia juga menggabungkan beberapa teknik untuk menciptakan produknya. Saat ini, Elia banyak menggunakan teknik hand-stitching dan sablon pada setiap produk yang dihasilkannya. Tapi tentu saja dia tidak akan berhenti sampai disitu, Elia berencana utnuk terus mengeksplor teknik-teknik lain untuk memperkaya produk-produk Simalakamma.


Selain membuat produk, beberapa kali Elia juga membuat karya seni yang sempat dipamerkan. Seperti foto diatas contohnya, adalah beberapa karyanya yang merepresentasikan kecintaannya akan sepatu.


Terimakasih obrolan hangatnya, Elia. Tak sabar ingin berkunjung kembali untuk secangkir blackcurrent tea dan biskuit :D 

Jika ingin berkenalan dengan Elia, silakan berkunjung saja ke blog dan facebooknya :)
http://simalakamma.blogspot.com/
http://www.facebook.com/profile.php?id=759412990
atau kontak mereka di email simalakama[at]gmail[dot]com

ditulis oleh : Putri
foto oleh : Ojan

Share This

Related Posts with Thumbnails